Connect with us

Language

english bahasa

Membeli Masa Depan

Hari ini ada undangan resepsi pernikahan anak seorang Ustadz. Ini hari ke-5 pasca Iedul Fitri 1438 H/2017. Sontak saja agenda resepsi ini juga menjadi ajang halal bihalal bertemu dengan saudara, kerabat, dan para Ustadz. Ternyata inilah keuntungan adanya resepsi yg dekat setelah lebaran; bagi undangan menjadi ajang pertemuan perdana dengan kerabat; bagi keluarga mempelai menjadi sarana bersamaan dengan agenda kumpul lebaran keluarga besar.

Yang ingin kami bahas pada artikel kali ini bukan tentang lebaran atau resepsi pernikahan. Tapi hikmah bertemu khalayak pasca lebaran. Salah satunya adalah bertemu dengan seorang Ustadz pembimbing umroh haji yg ramadhan lalu melakukan umroh. Beberapa orang menyapa sang Ustadz mengenai kegiatan umroh ramadhannya. Dalam hati, begitu mudahnya melakukan umroh bagi ustadz ini. Dan betapa beruntungnya mereka yang bisa umroh di Ramadhan. Pikiran kemudian melayang, bagaimana MudahUmroh bisa menjawab tantangan ini.

Umroh sekali adalah ibadah yang menjadi idaman banyak orang, khususnya mereka yang belum diberi kesempatan untuk berhaji, dan mereka yang rindu untuk meraih pahala yang berlimpah dengan melakukan ibadah umroh. Apalagi umroh ramadhan dan itikaf ramadhan di tanah suci. Jika ingin, mungkin hampir semua muslim ingin umroh dan haji sesering mungkin. Jika umroh hampir mungkin dilakukan setiap saat jika ada kecukupan dana, akan tetapi hal ini tidak berlaku dengan ibadah haji.

Dana, ya sekali lagi masalah klasik ini mengemuka. Ibadah yang satu ini memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jika kita menilik kepada Al Quran tentang masalah ekonomi, tentang bagaimana menghadapi kondisi yang tidak terduga dimasa depan. Solusi AlQuran adalah dengan menabung. Lihat kisah Nabi Yusuf dan mimpi raja. Masa depan seringkali tidaklah pasti. Apalagi kemungkinan masa depan adalah kondisi yang sulit. Maka solusi yang diberitakan Al Quran adalah menabung sebagian, dan konsumsi sebagian dari yang dihasilkan saat ini. Rasanya belum ada ayat yang begitu gamblang berbicara tentang perencanaan ekonomi selain ayat ini.

Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
[Qs Yusuf : 47 - 48]

Kembali kepada ibadah dan dana untuk ibadah. Tidak sedikit orang yang memiliki kondisi keuangan yang relatif stabil dan cukup, tapi tidak mampu memenuhi kebutuhan masa depannya dengan baik. Hal ini karena lupa pada esensi yang disampaikan oleh Al Quran. Persiapkan masa depan yang tidak tentu dengan menyimpan sebagian dan konsumsi/makan sebagiannya saja. Jangan habiskan semuanya hari ini. Dalam arti lain, menabunglah. Persiapkan masa depan.

Sebenarnya kita sudah bisa memprediksi sebagian dana yang perlu kita keluarkan, akan tetapi kita tidak bisa memprediksi apakah pada saat tersebut dana kita mencukupinya. Cobalah berhitung, ibadah apa saja yang terbuka peluangnya dalam perjalanan hidup kita atau berulang setiap saat, atau setiap tahun.

Peluang Ibadah Dalam Perjalan Hidup

  • Membeli Rumah
  • Membeli Motor
  • Melanjutkan Sekolah
  • Menikah
  • Hamil
  • Melahirkan
  • Aqiqah Anak
  • Membeli Mobil
  • Anak Sekolah TK
  • Anak Sekolah SD
  • Anak Sekolah SMP
  • Anak Sekolah SMA
  • Anak Kuliah
  • Menikahkan Anak
  • Pensiun
  • Persiapan Pemakaman


Peluang Ibadah Berulang

  • Infak Rutin
  • Qurban tahunan
  • Umroh
  • Haji

Banyak sekali bukan? Apakah kita perlu merencanakan dana yang kita miliki agar peluang ibadah tersebut tidak hilang begitu saja? Agar peluang ibadah tersebut tidak lewat begitu saja, maka dibutuhkan dana yang cukup. Akan tetapi bagaimana kita bisa memprediksi bahwa setiap saat kita tidak kekurangan uang untuk memenuhi peluang ibadah-ibadah itu? Masa depan tidak bisa kita pastikan, kita hanya memiliki hari ini. Hari kemarin sudah lewat tidak bisa diulang, hanya menjadi catatan sejarah atau kenangan.

Jika kita gagal membuat rencana, maka sebenarnya kita sedang merencanakan kegagalan.


Jika kita tidak memiliki persiapan yang cukup, maka kecenderungan yang ada malah kita sering terlihat memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhan yang datang. Memaksakan diri tidak baik, tapi sebenarnya yang terjadi adalah kelalaian kita untuk merencanakan diri dan mempersiapkan masa depan. Jika sudah kepepet. seringkali jalan keluarnya adalah berhutang. Padahal ada pilihan yang lebih baik. Menabung.

Menabung untuk ibadah dan kebutuhan masa depan adalah perilaku yang tepat. Sebagian masyarakat sudah terbiasa menabung dalam bentuk tabungan qurban, atau arisan misalnya. MudahUmroh pada dasarnya hadir ingin memberikan penekanan akan pentingnya merencanakan masa depan, merencakan kebutuhan dan peluang ibadah di masa depan dengan kebiasaan menabung. Jika startup lain mengajak anda menghabiskan uang begitu saja, maka MudahUmroh ingin membantu kebiasaan postif merencanakan masa depan anda dengan menabung. Mari secara sehat membuat alokasi keuangan anda tidak cuma untuk hari ini. Tapi juga untuk esok hari.

[mhs]

 

Komentar


Isi Komentar